Menurunnya Penggunaan Bahasa Jawa dalam Masyarakat

pexels-wahyu-widiatmoko-8720186
Picture of admin smansago
admin smansago
Share this post:

Penulis: Fajar Dwiyoko, S. Pd. (Guru Bahasa Jawa SMA Negeri 1 Slogohimo)

Editor: Admin SMANSAGO

 

Bahasa Jawa adalah bahasa yang digunakan masyarakat untuk berkomunikasi. Akan tetapi dalam kehidupan sehari-harinya mulai berkurang dan tergantikan. Seiring dengan perkembangan zaman dan berbagai pengaruh dari teknologi, ilmu pengetahuan, ataupun sosial budaya, telah mempengaruhi terjadinya perubahan penggunaan bahasa. Bagi masyarakat yang terbuka dan menerima perubahan, mereka akan senang sekali mengikuti perubahan tersebut. Perubahan tersebut menyebabkan bergesernya pakem-pakem tingkatan atau aturan pengucapan bahasa dalam Bahasa Jawa yang semestinya sesuai dengan urutan-urutannya sekarang menjadi tidak beraturan dan rancu. Pergeseran bahasa yang dimaksud adalah kode bahasa yang digunakan oleh masyarakat dari Bahasa Jawa jenis ngoko dan krama. Pergeseran bahasa tersebut tentu  berhubungan  dengan perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat Jawa itu sendiri.

Pergeseran Bahasa Jawa pada masyarakat tidak hanya berpengaruh pada eksistensi bahasa namun juga berpengaruh pada kebudayaan kita. Oleh karena itu, tulisan ini hanya menggambarkan sedikit tentang bagaimana pergeseran Bahasa Jawa tersebut dapat terjadi. Bahasa yang tergeser adalah bahasa yang tidak mampu mempertahankan diri (Sumarsono dan Partana, 2002: 231), kedua kondisi ini merupakan akibat dari pilihan bahasa dalam jangka panjang dan bersifat kolektif. Hal ini juga disampaikan oleh Fasold (1984: 213-214) bahwa pergeseran dan mempertahankan bahasa merupakan hasil dari proses pemilihan bahasa dalam jangka waktu yang sangat panjang.

Pergeseran bahasa menunjukan adanya suatu bahasa yang benar-benar ditinggalkan oleh masyarakat penggunanya. Pergeseran bahasa berarti suatu masyarakat atau komunitas tertentu meninggalkan suatu bahasa sepenuhnya untuk memakai bahasa lain (Sumarsono dan Partama, 2002: 231). Apabila pergeseran sudah terjadi, para masyarakat itu secara kolektif memilih bahasa baru. Dalam mempertahankan bahasa, masyarakat secara kolektif menentukan untuk melanjutkan memakai bahasa yang sudah biasa dipakai. Ketika masyarakat sudah memilih bahasa baru dalam keadaan yang semula diperuntukan bagi bahasa lama, itulah mungkin tanda-tanda bahwa pergeseran bahasa tengah terjadi.

Bahasa nasional (Indonesia) seolah menjadi bahasa pengganti Bahasa Jawa Krama, dimana masyarakat modern merasa sulit untuk mempelajari dan menggunakan bahasa krama dalam kehidupan bermasyarakat, karena harus memperhatikan betul tingkatan-tingkatan bahasa yang akan digunakan ketika berbicara dengan orang lain. Tingkatan tersebut berkaitan dengan usia, jabatan, serta kehormatan individu yang sedang diajak berkomunnikasi. Masing-masing memiliki tata bahasa yang berbeda-beda, sehingga mayoritas masyarakat Jawa modern lebih suka menggunakan Bahasa Indonesia untuk berkomuikasi, karena dirasa lebih simpel dan mudah. Namun di luar itu, Bahasa Jawa tidak sepenuhnya ditinggalkan. Bahasa Jawa Krama masih digunakan namun telah mengalami pergeseran dan eksistensinya tidak seperti dulu lagi.

Fenomena terjadinya krisis eksistensi penggunaan Bahasa Jawa di lingkungan keluarga adalah sebagai berikut:

(1) Penggunaan Bahasa Jawa Krama terhadap orang tua

Dalam proses berkomunikasi dengan keluarga, atau orang yang lebih tua pastinya harus menggunakan Bahasa Jawa krama. Namun saat ini anak-anak lebih sering menggunakan Bahasa Indonesia untuk menghindari bahasa krama karena kebanyakan dari mereka tidak menguasai bahasa krama. Orang tua yang tidak mengajarkan Bahasa Jawa krama sejak dini juga menjadi penyebab utama tergesernya penggunaan Bahasa Jawa.

(2) Terjadinya perubahan dalam penggunaan istilah kekerabatan

    Istilah-istilah kekerabatan digunakan untuk menegur sapa semua orang dalam keluarga jawa. Istilah-istilah yang digunakan dalam masyarakat Jawa adalah Pak, Bu, Mas, Mbak, dan Dik. Sedangkan dalam keluarga yang luas yaitu, Mbah Kakung (kakek), Mbah Putri (nenek), Pak De (kakak laki-laki dari ayah atau ibu), Bu Dhe (kakak perempuan dari ayah atau ibu), Bu Lik (adik perempuan dari arah atau ibu), dan Pak Lik (adik laki-laki dari ayah atau ibu).

     

    Namun seiring dengan berjalanya waktu telah terjadi perubahan dalam penggunaan istilah kekerabatan, dimana untuk menyapa orang tua yaitu bapak dan ibu, sekarang berubah menjadi ayah dan bunda. Selain itu sapaan le dan nduk sudah jarang digunakan. Melainkan langsung memanggil nama anaknya yang ingin dipanggil, tidak lagi menggunakan istilah le dan nduk.

    Penyebab terjadinya pengurangan penggunaan Bahasa Jawa dalam lingkungn kehidupan keluarga masyarakat Jawa disebabkan oleh dua faktor, yaitu:

    Faktor internal

    (1) Sosialisasi penggunaan Bahasa Jawa dalam keluarga yang kurang intensif

    Sosialisasi orang tua terhadap Bahasa Jawa untuk anak mereka hanya sebatas ngoko saja, selain itu kemampuan orang tua dalam menguasai tingkatan-tingkatan Bahasa Jawa yang baik dan benar juga kurang. Sehingga penggunaan Bahasa Jawa pada anak juga terbatas pada apa yang diajarkan oleh orang tua mereka dan yang biasa digunakan adalah bahasa ngoko. Sosialisasi orang tua kepada anak terhadap Bahasa Jawa berkurang juga dikarenakan orang tua yang sibuk bekerja. Sehingga tidak mempunyai waktu yang lebih luang untuk mensosialisasikan Bahasa Jawa kepada anak, karena waktunya sudah habis untuk bekerja.

    (2) Anggapan bahwa berkomunikasi dengan Bahasa Jawa itu lebih sulit

      Adanya aturan tingkatan Bahasa Jawa, yaitu krama, madya, dan ngoko harus tepat pengucapannya ketika digunakan dalam berkomunikasi. Banyak yang mengatakan bahwa tiga tingkatan dalam Bahasa Jawa tersebut sangatlah sulit. Bahkan anak-anak zaman sekarang sebagian besar hanya menguasai bahasa ngoko dalam berkomunikasi dengan siapapun, tidak peduli itu lebih tua ataupun seumuran. Kemampuan dalam berbahasa Jawa juga tidak didukung dengan orang tua dengan dibiasakan menggunakan Bahasa Jawa Krama dalam berkomunikasi dalam keluarga.

      (3) Kemampuan terhadap penggunaan Bahasa Jawa yang semakin berkurang

      Kemampuan para anak-anak zaman sekarang sudah mulai berkurang. Mereka hanya bisa berbahasa ngoko saja, sedangkan bahasa krama-nya sangatlah kurang. Apalagi bagi anak-anak yang dalam keluarganya sudah terbiasa dengan bahasa ngoko saja sehingga kemampuan penggunaanya sangat terbatas pada tingkatan Bahasa Jawa yang paling dasar saja.

        Kemampuan terhadap penggunaan Bahasa Jawa yang kurang juga didukung dengan orang tua yang membiasakan penggunaan bahasa krama dalam berkomunikasi dalam lingkungan keluarga.

         

        Faktor eksternal

        (1) Penggunaan bahasa di lingkungan sekitar tempat tinggal

          Penggunaan bahasa yang sering digunakan di sekitar lingkungan tempat tinggal keluarga berpenganguh sangat besar.

          (2) Penggunaan Bahasa Indonesia dalam keluarga

            Penggunaan Bahasa Indonesia yang semakin lama semakin mendominasi dalam kehidupan keluarga menyebabkan penggunaan Bahasa Jawa yang semalin berkurang. Hal tersebut disebabkan karena menggunakan bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dirasa lebih mudah penggunaannya.

            (3) Tayangan televisi

              Bahasa yang ada dalam televisi saat ini mempengaruhi bahasa anak yang melihat tayangan tersebut. Biasanya bahasa yang digunakan di televisi adalah Bahasa Indonesia. Bukan hanya Bahasa Indonesia saja tetapi juga terdapat Bahasa Inggris. Adanya televisi merupakan bagian dalam modernitas masyarakat, yaitu di bidang perkembangan teknologi. Tayangan yang berada di televisi tidak hanya berasal dari lokal saja tetapi juga dari luar. Bahwa telah terjadi kontak antara masyarakat terhadap dunia luar yang semakin luas. Dalam hal ini bahasa yang ada dalam televisi akan mempengaruhi anak-anak yang melihatnya. Tayangan-tayangan di televisi seperti sinetron bahasa yang digunakan adalah Bahasa Indonesia yang kurang mendidik atau dapat dikatakan alay.

              (4) Pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah yang kurang

                Pembelajaran Bahasa Jawa di sekolah-sekolah saat imi hanya dijadikan muatan lokal saja, bukan sebagai pelajaran utama. Namun bahasa asing malah diutamakan dalam pembelajaran di sekolah dan jam pelajarannya juga lebih lama dibandingkan bahasa daerah yaitu Bahasa Jawa. Bahwa sekolah adalah sarana pembelajaran Bahasa Jawa lanjutan selain di lingkungan keluarga, akan tetapi juga pembelajaranya di sekolah juga kurang intensif. Hal ini juga menyebabkan semakin berkurangnya kemampuan anak terhadap Bahasa Jawa jika dalam sekolah saja pembelajarannya tidak maksimal, karena hanya satu jam saja di setiap minggunya.

                (5) Lingkungan pergaulan anak

                  Lingkungan pergaulan tidak hanya akan mempengaruhi terhadap perkembangan sikap anak tetapi juga terhadap penggunaan bahasanya. Bahwa anak-anak lebih mudah menyerap pengaruh dalam lingkunganya, dan cenderung menirukannya.

                   

                  Terjadinya krisis eksistensi Bahasa Jawa dalam lingkungan keluarga akan menimbulkan suatu dampak yang negatif bagi perkembangan Bahasa Jawa. Dampak yang akan timbul adalah sebagai berikut:

                  1. Penggunaan Bahasa Jawa yang semakin berkurang dan tidak lagi digunakan didalam lingkungan keluarga masyarakat Jawa. Hal ini akan berpengaruh buruk pada perkembangan dan pewarisan Bahasa Jawa nantinya di kemudian hari.
                  2. Bahasa Jawa keberadaannya terancam punah. Apabila Bahasa Jawa terus tergeser eksistensinya oleh bahasa lain, maka yang terjadi adalah Bahasa Jawa akan punah karena jumlah penggunanya sedikit dan hanya terbatas pada kalangan usia tua saja. Selain itu pada era globalisasi saat ini penguasaan bahasa sangat diutamakan jika Bahasa Jawa tidak lagi dipertahankan dan digunakan oleh masyarakat Jawa itu sendiri maka keberadaanya akan tergeser dengan bahasa lain.
                  3. Perubahan sikap unggah-ungguh terhadap orang tua. Unggah-ungguh dan penghormatan ketika berbicara dengan orang tua tidak diperhatikan lagi. Bahwa telah menurunnya sikap unggah-ungguh dan penghormatan dalam penggunaan bahasa terhadap orang tua.
                  4. Berkurangnya penggunaan Bahasa Jawa dalam lingkungan hidup masyarakat jawa, disebabkan oleh sosialisasi Bahasa Jawa yang kurang oleh orang tua dan penggunaan Bahasa Indonesia untuk berkomunikasi dalam keluarga serta kemampuan anak maupun orang tua yang kurang dalam menggunakan Bahasa Jawa. Selain itu juga pengaruh bahasa dari lingkungan tempat tinggal, lingkungan pergaulan, dan bahasa dalam tayangan televisi. Dan pada akhirnya nanti Bahasa Jawa akan semakin berkurang dan terancam punah serta dalam berkomunikasi antara anak dan orang tua tidak ada lagi sikap unggah-ungguh yang benar

                   

                  Bahasa Jawa, sebagai bahasa yang digunakan oleh masyarakat untuk berkomunikasi, mengalami perubahan signifikan dalam penggunaannya. Berbagai faktor mempengaruhi pergeseran ini, dan artikel ini akan membahas beberapa aspek terkait menurunnya penggunaan Bahasa Jawa di lingkungan keluarga dan masyarakat Jawa.

                  1. Pengaruh Teknologi dan Globalisasi: Perkembangan zaman dan pengaruh teknologi serta globalisasi telah memengaruhi cara kita berkomunikasi. Bahasa Jawa mulai tergantikan oleh Bahasa Indonesia yang lebih umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat yang terbuka terhadap perubahan lebih mudah mengikuti tren ini.
                  2. Pergeseran Kode Bahasa: Bahasa Jawa memiliki tingkatan atau aturan pengucapan yang sekarang menjadi tidak beraturan dan rancu. Kode bahasa yang digunakan oleh masyarakat dari bahasa Jawa jenis ngoko dan krama mengalami pergeseran. Pergeseran ini berkaitan dengan perubahan sosial budaya di kalangan masyarakat Jawa.
                  3. Bahasa Nasional sebagai Pengganti: Bahasa Indonesia semakin menjadi bahasa pengganti Bahasa Jawa krama. Masyarakat modern merasa sulit mempelajari dan menggunakan bahasa krama karena harus memperhatikan tingkatan-tingkatan bahasa saat berbicara dengan orang lain. Bahasa nasional dianggap lebih simpel dan mudah.
                  4. Kurangnya Sosialisasi Bahasa Jawa: Orang tua kurang memberikan sosialisasi tentang Bahasa Jawa kepada anak-anak mereka. Penggunaan bahasa Indonesia lebih dominan dalam keluarga, sehingga kemampuan menggunakan bahasa Jawa menurun.
                  5. Pentingnya Pendidikan Bahasa Jawa: Pendidikan tentang Bahasa Jawa harus ditingkatkan, baik di lingkungan keluarga maupun sekolah. Pembelajaran tentang tata krama dan penggunaan Bahasa Jawa perlu diperkuat agar eksistensi bahasa ini tetap terjaga.

                  Dalam menghadapi perubahan ini, penting bagi kita untuk tetap memahami nilai budaya dan identitas yang terkandung dalam Bahasa Jawa. Semua pihak, termasuk keluarga, sekolah, dan komunitas, dapat berperan aktif dalam melestarikan dan memperkuat penggunaan Bahasa Jawa di tengah arus globalisasi yang terus berkembang.